Minggu, 12 April 2009
Jenis-jenis Film Umum
Jenis-jenis Film
-----------------------------------------
Film Dokumenter (Documentary Films)
Dokumenter adalah sebutan yang diberikan untuk film pertama karya Lumiere bersaudara yang berkisah tentang perjalanan (travelogues) yang dibuat sekitar tahun 1890-an. Tiga puluh enam tahun kemudian, kata ‘dokumenter’ kembali digunakan oleh pembuat film dan kritikus film asal Inggris John Grierson untuk film Moana (1926) karya Robert Flaherty. Grierson berpendapat dokumenter merupakan cara kreatif merepresentasikan realitas (Susan Hayward, Key Concept in Cinema Studies, 1996, hal 72). Sekalipun Grierson mendapat tentangan dari berbagai pihak, pendapatnya tetap relevan sampai saat ini. Film dokumenter menyajikan realita melalui berbagai cara dan dibuat untuk berbagai macam tujuan. Namun harus diakui, film dokumenter tak pernah lepas dari tujuan penyebaran informasi, pendidikan, dan propaganda bagi orang atau kelompok tertentu. Intinya, film dokumenter tetap berpijak pada hal-hal senyata mungkin.
Seiring dengan perjalanan waktu, muncul berbagai aliran dari film dokumenter misalnya dokudrama (docudrama). Dalam dokudrama, terjadi reduksi realita demi tujuantujuan estetis, agar gambar dan cerita menjadi lebih menarik. Sekalipun demikian, jarak antara kenyataan dan hasil yang tersaji lewat dokudrama biasanya tak berbeda jauh. Dalam dokudrama, realita tetap menjadi pegangan.
Kini dokumenter menjadi sebuah tren tersendiri dalam perfilman dunia. Para pembuat film bisa bereksperimen dan belajar tentang banyak hal ketika terlibat dalam produksi film dokumenter. Tak hanya itu, film dokumenter juga dapat membawa keuntungan dalam jumlah yang cukup memuaskan. Ini bisa dilihat dari banyaknya film dokumenter yang bisa kita saksikan melalui saluran televisi seperti program National Geographic dan Animal Planet. Bahkan saluran televisi Discovery Channel pun mantap menasbih diri sebagai saluran televisi yang hanya menayangkan program dokumenter tentang keragaman alam dan budaya. Selain untuk konsumsi televisi, film dokumenter juga lazim diikutsertakan dalam berbagai festival film di dalam dan luar negeri. Sampai akhir penyelenggaraannya tahun 1992, Festival Film Indonesia (FFI) memiliki kategori untuk penjurian jenis film dokumenter.
Di Indonesia, produksi film dokumenter untuk televisi dipelopori oleh stasiun televisi pertama kita, Televisi Republik Indonesia (TVRI). Beragam film dokumenter tentang kebudayaan, flora dan fauna Indonesia telah banyak dihasilkan TVRI. Memasuki era televisi swasta tahun 1990, pembuatan film dokumenter untuk televisi tidak lagi dimonopoli TVRI. Semua televisi swasta menayangkan program film dokumenter, baik produksi sendiri maupun membelinya dari sejumlah rumah produksi. Salah satu gaya film
dokumenter yang banyak dikenal orang, salah satunya karena ditayangkan secara serentak oleh lima stasiun swasta dan TVRI adalah Anak Seribu Pulau (Miles Production, 1995).
Dokudrama ini ternyata disukai oleh banyak kalangan sehingga sekitar enam tahun kemudian program yang hampir sama dengan judul Pustaka Anak Nusantara (Yayasan SET, 2001) diproduksi untuk konsumsi televisi. Dokudrama juga mengilhami para pembuat film di Hollywood. Beberapa film terkenal juga mengambil gaya dokudrama seperti JFK (tentang presiden Kenedy), Malcom X, dan Schindler’s List.
Film Cerita Pendek (Short Films)
Durasi film cerita pendek biasanya di bawah 60 menit. Di banyak negara seperti Jerman, Australia, Kanada, Amerika Serikat, dan juga Indonesia, film cerita pendek dijadikan laboratorium eksperimen dan batu loncatan bagi seseorang/sekelompok orang untuk kemudian memproduksi film cerita panjang. Jenis film ini banyak dihasilkan oleh para mahasiswa jurusan film atau orang/kelompok yang menyukai dunia film dan ingin berlatih membuat film dengan baik. Sekalipun demikian, ada juga yang memang mengkhususkan diri untuk memproduksi film pendek, umumnya hasil produksi ini dipasok ke rumah-rumah produksi atau saluran televisi.
Film Cerita Panjang (Feature-Length Films)
Film dengan durasi lebih dari 60 menit lazimnya berdurasi 90-100 menit. Film yang diputar di bioskop umumnya termasuk dalam kelompok ini. Beberapa film, misalnya Dances With Wolves, bahkan berdurasi lebih 120 menit. Film-film produksi India rata-rata berdurasi hingga 180 menit.
Film-film Jenis Lain
-------------------------------------
Profil Perusahaan (Corporate Profile)
Film ini diproduksi untuk kepentingan institusi tertentu berkaitan dengan kegiatan yang mereka lakukan, misal tayangan “Usaha Anda” di SCTV. Film ini sendiri berfungsi sebagai alat bantu presentasi atau promosi.
1.4.2 Iklan Televisi (TV Commercial)
Film ini diproduksi untuk kepentingan penyebaran informasi, baik tentang produk (iklan produk) maupun layanan masyarakat (iklan layanan masyarakat atau public service announcement/PSA). Iklan produk biasanya menampilkan produk yang diiklankan secara eksplisit, artinya ada stimulus audio-visual yang jelas tentang produk tersebut. Sedangkan
iklan layanan masyarakat menginformasikan kepedulian produsen suatu produk terhadap fenomena sosial yang diangkat sebagai topik iklan tersebut. Dengan demikian, iklan layanan masyarakat umumnya menampilkan produk secara implisit.
Program Televisi (TV Programme)
Program ini diproduksi untuk konsumsi pemirsa televisi. Secara umum, program televisi dibagi menjadi dua jenis yakni cerita dan noncerita. Jenis cerita terbagi menjadi dua kelompok yakni fiksi dan nonfiksi. Kelompok fiksi memproduksi film serial (TV series), film televisi/FTV (populer lewat saluran televisi SCTV) dan film cerita pendek. Kelompok nonfiksi menggarap aneka program pendidikan, film dokumenter atau profil tokoh dari daerah tertentu. Sedangkan program non cerita sendiri menggarap variety show, TV quis, talkshow, dan liputan berita (news).
Video Klip (Music Video)
Video klip adalah sarana bagi produser music untuk memasarkan produknya lewat medium televisi. Dipopulerkan pertama kali lewat saluran televisi MTV tahun 1981. Di Indonesia, video klip ini sendiri kemudian berkembang sebagai bisnis yang mengiurkan seiring dengan pertumbuhan televisi swasta. Akhirnya video klip tumbuh sebagai aliran dan industri tersendiri. Beberapa rumah produksi mantap memilih video klip menjadi bisnis utama (core busines) mereka. Di Indonesia tak kurang dari 60 video klip diproduksi tiap tahun.
Selengkapnya...
Rabu, 08 April 2009
Sejarah Film Indonesia - part 1
Oleh Abdul R S El midanny
Film pertama kali lahir diparuh kedua abad 19, dibuat dengan bahan dasar seluloid yang sangat mudah terbakar, bahkan oleh percikan abu rokok sekalipun. Sesuai perjalanan waktu, para ahli berlomba-lomba untuk menyempurnakan film agar lebih aman, lebih mudah diproduksi dan lebih enak ditonton .
Untuk memahami sejarah perfilman di Indonesia, situasi social bahkan pergolakan politik yang langsung ataupun tidak melatari perkembanganya perlu dimengerti dengan baik terlebih dahulu Seperti yang diungkapkan oleh seorang pakar film Sigfried Kracauer “Umumnya dapat dilihat bahwa teknik, isi cerita dan perkembaangan film suatu bangsa hanya dapat difahami secara utuh dalam hubunganya dengan pola psikologis aktual bangsa itu” . Jika sebuah situasi sosial, urbanisasi dan diferensiasi kerja menunjukan terbentuknya suatu struktur yang akhirnya memberi kemungkinan bagi tumbuhnya hiburan yang bercorak bazaar, seperti film ini, maka pertumbuhan budaya kota, adalah situasi cultural yang menyalurkan simbol-simbolnya lewat media film itu.
Sejarah tentang perfilman Indonesia dimulai sejak 5 Desember 1900 M, pada saat itu masyarakat Kota Jakarta (dulunya disebut Kota Batavia) untuk pertama kali mendapat kesempatan melihat gambar idoep (Film) . Tepatnya selang beberapa tahun setelah “benda ajaib” itu diperkenalkan diluar negeri, Perancis tempat asal mula film dan bioskop pertama kali muncul. Film pertama yang diputar di Indonesia pada waktu itu adalah sebuah film dokumenter yang menggambarkan perjalanan hidup ratu Orlanda dan raja Hertog Hendrik dikota Den Haag. Akan tetapi, berulah pada tahun 1926 film cerita , yang masih bisu, pertama kali diproduksi di Indonesia.
Di tahun 1926 inilah, untuk pertama kalinya sebuah film cerita yang masih bisu. Agak terlambat memang. Karena pada tahun tersebut, di belahan dunia yang lain, film-film bersuara sudah mulai diproduksi. Film cerita lokal pertama yang berjudul Loetoeng Kasaroeng ini diproduksi oleh NV. Java Film Company . Dalam produksi film Lutung Kasarung ini, pemain-pemain pribumi dipilih dengan seksama dari golongan priyayi yang berpendidikan.
Sepuluh tahun kemudian, produksi film cerita mulai berjalan dengann lebih teratur. Maka berbagi perusahaan film, yang umumnya pada waktu itu dimiliki oleh pengusaha China mulai berdiri di Jakarta, Sejak saat itu film pun semakin menampilkan diri sebagai produk kesenian hiburan yang bisa dibeli di pasar. Pada masa ini, bioskop sebagai tempat pemutaran film pun terbagi dua; Bioskop mahal dengan film asing adalah santapan tuan besar, sedang bioskop “kelas kambing” yang terletak diwilayah perkampungan adalah hiburan yang bisa dinikmati oleh oleh golongan masayarakat bumiputra (Indonesia) .
Namun, momentum pembuatan film Loetoeng Kasarung dan beberapa film lainya yang diproduksi pada tahun 1921 belum dapat dijadikan sebagai film yang benar-benar digagas dan diproduksi sepenuhya oleh warga asli Indonesia, ini dikarenakan masih mendominasinya keterlibatan perusahaan-perusahaan film serta para tenaga ahli Belanda dan China dalam proses produksinya. Barulah pada tahun 1950 , sebuah film yang disutradari Usmar Ismail (asli warga Indonesia) dengan judul “Darah dan Doa” di produksi dengan melibatkan tenaga ahli warga Indonesia yang ada pada masa itu. Hari pertama shooting (pengambilan gambar) film “Darah dan Doa”, yakni pada tanggal 30 Maret 1950 dijadikan sebagai hari film Nasional yang diperingati setiap tahunya .
Dalam sejarah film Indonesia, para pengusaha film dari Amerika Hollywood telah terlibat sejak awal guna mendistribusikan film-film mereka secara langsung ke Hindia Belanda.
Film sebagai produk seni bazaar, berpengaruh terhadap perkembangan film di Indonesia. Dalam sejarahnya, Film dengan sifat integratif dari seni bazaar ini menjadi problematika sendiri ketika film mulai diproduksi di Indonesia. Pemodal tetap China dan msyarakat kota kolonial, tidak hanya menganggap film sebagai “benda dalam kaleng”, melainkan film juga bisa di Import. Orang-orang Eropa dan masyarakat kelas atas yang tinggal di Jakarta lebih suka membeli film Import, sejak saat itulah para pembuat film sibuk menyesuaikan diri dengan selera dari kalangan masyarakat bawah yang tak terdidik dan hanya sanggup menontonton/dan membeli film murah. Namun karena kondisi inipulah, ketika film mulai berkembang di Indonesia dan disaat Nasionalisme telah mulai meresap dikalangan terpelajar, film seperti juga media lainya mulai dilihat sebagai sarana untuk mencapai kesadaran rakyat banyak. Kondisi inilah yang kemudian menyebabkan masuknya wartawan pribumi kedunia film menjelang jatuhnya Hindia Belanda .
Pada masa film masih bisu, pertunjukan film di Indonesia diiringi dengan musik hidup yang bermain disamping layar . Mutu pada permainanya disesuaikan dengan tingkat bioskop bersangkutan, tempat film diputar. Biasanya, untuk bioskop kecil cukup dengan band murah, bahkan terkadang Cuma diringi sebuah piano saja. Kondisi “film bisu” ini berakhir hingga tahun 1930-an, karena pada tahun ini seiring dengan munculnya teknologi audio-visual telah muncul film bersuara . Dampak dari perkembangan teknologi Audio-Visual tersebut, proyektor yang biasanya digunakan pemutaran “film bisu” harus diganti dengan proyektor seloluid
Pada tahun 1921, tepatnya pada masa penjajahan Belanda, yang disebut sebagai pembuat film pada waktu itu, atau menurut istilah Belanda “operator film”, adalah seorang juru kamera yang merangkap segalanya. Tugas yang dilakukan operator film adalah merekam keadaan alam teropis, hewan liar, keadaan pribumi, adat istiadat, dan objek lainya dari timur yang penuh “misteri”. Biasanya, para pembuat film diwaktu itu berkelana beserta kamera yang harus diputar dengan tangan .
Pada tahun 1941, saat ketegangan konflik pemerintahan Hindia Belanda dengan Jepang semakin memuncak serta memberi pengaruh terhadap kondisi social-politik pada masa itu, maka publik film dari kalangan pers dan terpelajar memberikan harapan dan penenekanan fungsi atas film-film yang diproduksi agar ikut berpartisipasi dalam menyuarakan persiapan menjelang kemerdekaan republik Indonesia, dengan cara meningkaatkan perasaan kebangsaan dalam cerita-cerita filmnya.
Seperti yang diungkapkan Winarno, Pemimpin redaksi Berita Oemoem, ia menulis disaat itu: “Dalam sejarah negeri manapun didunia ini, para ahli seni, sastra/pujangga, dan pelukis memiliki bagian dan peran untuk mempengaruhi, mendorong dan mengalirkan semangat serta perasaan rakyat. Di zaman dulu, cuma ada sastrawan, pujangga dan pelukis-pelukis yang mampu membimbing semangat dan perasaan rakyat. Namun, dimasa sekarang (1941) para ahli film (sutradara, penulis scenario) harus dapat turut memberikan bagianya dalam melahirkan perasaan-perasaan baru guna turut membangun masyarakat baru”.
Selengkapnya...
-
Ngbrol Sejenak
Sekarang...