Minggu, 12 April 2009
Siapa Asrul Sani
Siapa yang tak kenal dengan Asrul Sani?
Asrul Sani, sosok tokoh yang multi talenta Indonesia. Lahir di Rao, Pasaman, suatu daerah di sebelah utara Sumatra Barat, pada tanggal 10 Juni 1926. Terlahir sebagai keturunan dari keluarga kerajaan, yang ayahnya seorang raja bergelar “Sultan Marah Sani Syair Alamsyah Yang Dipertuan Sakti Rao Mapat”. Dan dari seorang ibu yang penuh perhatian, diusia dini ia sudah mendengar cerita “Surat Kepada Radja” karya Tagore.
Ada yang menyebutkan bahwa Asrul kecil memulai pendidikan formalnya di Holland Inlandsche School (HIS), Bukittinggi, pada tahun 1936. Adapula yang mengatakannya masuk di SR “Sekolah Rakyat”. Yang pasti lalu, ia masuk ke SMP Taman Siswa, Jakarta (1942). Ia menyelesaikan kuliahnya pada tahun 1955, sebagai alumni Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia, jadilah ia seorang dokter hewan. Namun kecintaannya pada dunia sastra dan peran membawanya untuk mengikuti seminar internasional mengenai kebudayaan di Universitas Harvard (1954), kemudian memperdalam pengetahuan dramaturgi dan sinematografi di Universitas California Selatan, Los Angeles, Amerika Serikat (1956), dilanjutkan dengan Sticusa di Amsterdam (1957-1958).
Di dalam dunia sastra Asrul Sani dikenal sebagai seorang pelopor Angkatan ’45. Kariernya sebagai Sastrawan mulai menanjak ketika bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin menerbitkan buku kumpulan puisi yang berjudul Tiga Menguak Takdir. Kumpulan puisi itu sangat banyak mendapat tanggapan, terutama judulnya yang mendatangkan beberapa tafsir. Setelah itu, mereka juga menggebrak dunia sastra dengan memproklamirkan “Surat Kepercayaan Gelanggang” sebagai manifestasi sikap budaya mereka. Gebrakan itu benar-benar mempopulerkan mereka.
Sisi lain dari Asrul, kembali saat bertemu Usmar Ismail, tokoh perfilman kala itu. Bahkan, keduanya sepakat mendirikan Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) yang melahirkan banyak sineas maupun seniman teater kesohor, seperti Teguh Karya, Wahyu Sihombing, Tatiek W. Maliyati, Ismed M Noor, Slamet Rahardjo Djarot, Nano dan Ratna Riantiarno, Deddy Mizwar, dan lain-lain.
Beliau juga pernah menjadi Ketua Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi), Anggota Badan Sensor Film, Ketua Dewan Kesenian Jakarta, anggota Dewan Film Indonesia, lan anggota Akademi Jakarta (salami gesang). Tahun 2000 Asrul nampi penghargaan Bintang Mahaputra saking Pamaréntah RI.
Film pertama yang disutradarai Asrul Sani adalah “Titian Serambut Dibelah Tudjuh” pada tahun 1959. Dan, ia mulai mencapai kematangan ketika sebuah film karyanya “Apa yang Kau Cari Palupi terpilih sebagai film terbaik pada Festival Film Asia pada tahun 1970. Karya besar film lainnya adalah “Monumen Kejarlah Daku Kau Kutangkap”, “Naga Bonar”, “Pagar Kawat Berduri”, “Salah Asuhan”, “Para Perintis Kemerdekaan”, “Kemelut Hidup” dan lain-lain.
Itulah Asrul Sani, yang pada hari Minggu, 11 Januari 2004 tepat pukul 22.15 WIB dengan tenang tepat di pelukan Mutiara Sani (56 tahun) istrinya meninggal dunia pada usia 77 tahun karena usia tua dan meninggalkan tiga putra dan tiga putri serta enam cucu, serta istri pertama Siti Nuraini yang diceraikannya dan istri kedua Mutiara Sani Sarumpaet.
Selengkapnya...
Rabu, 08 April 2009
Sejarah Film Indonesia - part 1
Oleh Abdul R S El midanny
Film pertama kali lahir diparuh kedua abad 19, dibuat dengan bahan dasar seluloid yang sangat mudah terbakar, bahkan oleh percikan abu rokok sekalipun. Sesuai perjalanan waktu, para ahli berlomba-lomba untuk menyempurnakan film agar lebih aman, lebih mudah diproduksi dan lebih enak ditonton .
Untuk memahami sejarah perfilman di Indonesia, situasi social bahkan pergolakan politik yang langsung ataupun tidak melatari perkembanganya perlu dimengerti dengan baik terlebih dahulu Seperti yang diungkapkan oleh seorang pakar film Sigfried Kracauer “Umumnya dapat dilihat bahwa teknik, isi cerita dan perkembaangan film suatu bangsa hanya dapat difahami secara utuh dalam hubunganya dengan pola psikologis aktual bangsa itu” . Jika sebuah situasi sosial, urbanisasi dan diferensiasi kerja menunjukan terbentuknya suatu struktur yang akhirnya memberi kemungkinan bagi tumbuhnya hiburan yang bercorak bazaar, seperti film ini, maka pertumbuhan budaya kota, adalah situasi cultural yang menyalurkan simbol-simbolnya lewat media film itu.
Sejarah tentang perfilman Indonesia dimulai sejak 5 Desember 1900 M, pada saat itu masyarakat Kota Jakarta (dulunya disebut Kota Batavia) untuk pertama kali mendapat kesempatan melihat gambar idoep (Film) . Tepatnya selang beberapa tahun setelah “benda ajaib” itu diperkenalkan diluar negeri, Perancis tempat asal mula film dan bioskop pertama kali muncul. Film pertama yang diputar di Indonesia pada waktu itu adalah sebuah film dokumenter yang menggambarkan perjalanan hidup ratu Orlanda dan raja Hertog Hendrik dikota Den Haag. Akan tetapi, berulah pada tahun 1926 film cerita , yang masih bisu, pertama kali diproduksi di Indonesia.
Di tahun 1926 inilah, untuk pertama kalinya sebuah film cerita yang masih bisu. Agak terlambat memang. Karena pada tahun tersebut, di belahan dunia yang lain, film-film bersuara sudah mulai diproduksi. Film cerita lokal pertama yang berjudul Loetoeng Kasaroeng ini diproduksi oleh NV. Java Film Company . Dalam produksi film Lutung Kasarung ini, pemain-pemain pribumi dipilih dengan seksama dari golongan priyayi yang berpendidikan.
Sepuluh tahun kemudian, produksi film cerita mulai berjalan dengann lebih teratur. Maka berbagi perusahaan film, yang umumnya pada waktu itu dimiliki oleh pengusaha China mulai berdiri di Jakarta, Sejak saat itu film pun semakin menampilkan diri sebagai produk kesenian hiburan yang bisa dibeli di pasar. Pada masa ini, bioskop sebagai tempat pemutaran film pun terbagi dua; Bioskop mahal dengan film asing adalah santapan tuan besar, sedang bioskop “kelas kambing” yang terletak diwilayah perkampungan adalah hiburan yang bisa dinikmati oleh oleh golongan masayarakat bumiputra (Indonesia) .
Namun, momentum pembuatan film Loetoeng Kasarung dan beberapa film lainya yang diproduksi pada tahun 1921 belum dapat dijadikan sebagai film yang benar-benar digagas dan diproduksi sepenuhya oleh warga asli Indonesia, ini dikarenakan masih mendominasinya keterlibatan perusahaan-perusahaan film serta para tenaga ahli Belanda dan China dalam proses produksinya. Barulah pada tahun 1950 , sebuah film yang disutradari Usmar Ismail (asli warga Indonesia) dengan judul “Darah dan Doa” di produksi dengan melibatkan tenaga ahli warga Indonesia yang ada pada masa itu. Hari pertama shooting (pengambilan gambar) film “Darah dan Doa”, yakni pada tanggal 30 Maret 1950 dijadikan sebagai hari film Nasional yang diperingati setiap tahunya .
Dalam sejarah film Indonesia, para pengusaha film dari Amerika Hollywood telah terlibat sejak awal guna mendistribusikan film-film mereka secara langsung ke Hindia Belanda.
Film sebagai produk seni bazaar, berpengaruh terhadap perkembangan film di Indonesia. Dalam sejarahnya, Film dengan sifat integratif dari seni bazaar ini menjadi problematika sendiri ketika film mulai diproduksi di Indonesia. Pemodal tetap China dan msyarakat kota kolonial, tidak hanya menganggap film sebagai “benda dalam kaleng”, melainkan film juga bisa di Import. Orang-orang Eropa dan masyarakat kelas atas yang tinggal di Jakarta lebih suka membeli film Import, sejak saat itulah para pembuat film sibuk menyesuaikan diri dengan selera dari kalangan masyarakat bawah yang tak terdidik dan hanya sanggup menontonton/dan membeli film murah. Namun karena kondisi inipulah, ketika film mulai berkembang di Indonesia dan disaat Nasionalisme telah mulai meresap dikalangan terpelajar, film seperti juga media lainya mulai dilihat sebagai sarana untuk mencapai kesadaran rakyat banyak. Kondisi inilah yang kemudian menyebabkan masuknya wartawan pribumi kedunia film menjelang jatuhnya Hindia Belanda .
Pada masa film masih bisu, pertunjukan film di Indonesia diiringi dengan musik hidup yang bermain disamping layar . Mutu pada permainanya disesuaikan dengan tingkat bioskop bersangkutan, tempat film diputar. Biasanya, untuk bioskop kecil cukup dengan band murah, bahkan terkadang Cuma diringi sebuah piano saja. Kondisi “film bisu” ini berakhir hingga tahun 1930-an, karena pada tahun ini seiring dengan munculnya teknologi audio-visual telah muncul film bersuara . Dampak dari perkembangan teknologi Audio-Visual tersebut, proyektor yang biasanya digunakan pemutaran “film bisu” harus diganti dengan proyektor seloluid
Pada tahun 1921, tepatnya pada masa penjajahan Belanda, yang disebut sebagai pembuat film pada waktu itu, atau menurut istilah Belanda “operator film”, adalah seorang juru kamera yang merangkap segalanya. Tugas yang dilakukan operator film adalah merekam keadaan alam teropis, hewan liar, keadaan pribumi, adat istiadat, dan objek lainya dari timur yang penuh “misteri”. Biasanya, para pembuat film diwaktu itu berkelana beserta kamera yang harus diputar dengan tangan .
Pada tahun 1941, saat ketegangan konflik pemerintahan Hindia Belanda dengan Jepang semakin memuncak serta memberi pengaruh terhadap kondisi social-politik pada masa itu, maka publik film dari kalangan pers dan terpelajar memberikan harapan dan penenekanan fungsi atas film-film yang diproduksi agar ikut berpartisipasi dalam menyuarakan persiapan menjelang kemerdekaan republik Indonesia, dengan cara meningkaatkan perasaan kebangsaan dalam cerita-cerita filmnya.
Seperti yang diungkapkan Winarno, Pemimpin redaksi Berita Oemoem, ia menulis disaat itu: “Dalam sejarah negeri manapun didunia ini, para ahli seni, sastra/pujangga, dan pelukis memiliki bagian dan peran untuk mempengaruhi, mendorong dan mengalirkan semangat serta perasaan rakyat. Di zaman dulu, cuma ada sastrawan, pujangga dan pelukis-pelukis yang mampu membimbing semangat dan perasaan rakyat. Namun, dimasa sekarang (1941) para ahli film (sutradara, penulis scenario) harus dapat turut memberikan bagianya dalam melahirkan perasaan-perasaan baru guna turut membangun masyarakat baru”.
Selengkapnya...
Selasa, 07 April 2009
Sejarah Perfilman Nasional
Selain melakukan promosi di surat kabar dengan kalimat-kalimat yang terkesan bombastis, pihak bioskop juga menjual karcis promosi. Kursi penonton ditambah kelasnya menjadi 4 kelas. Kelas yang ditambah adalah Loge (VIP) dan Kelas III (kemudian disebut kelas "kambing" yang identik dengan pribumi). Dalam 5 tahun pertama, bioskop-bioskop di masa itu sudah sanggup memutar dua film setiap malamnya.
Namun film yang sebenar-benarnya dibuat di Indonesia adalah Loetoeng Kasaroeng yang dirilis pada tahun 1926 oleh NV Java Film Company. Disutradarai oleh dua orang Belanda, G. Kruger dan L. Heuveldorp dan dibintangi oleh aktor-aktris pribumi, dengan dukungan Wiranatakusumah V (Bupati Bandung pada masa itu. Pemutaran perdananya di kota Bandung berlangsung dari tanggal 31 Desember 1926 sampai 6 Januari 1927 di dua bioskop terkenal Elite dan Oriental Bioscoop (Majestic).
Pada masanya, gedung bisokop ini dibangun sebagai bagian yang terpisahkan dari kawasan Jalan Braga, Bandung. Sebuah kawasan belanja bergengsi bagi para Meneer Belanda pemilik perkebunan. Bioskop ini, didirikan untuk keperluan memuaskan hasrat para Meneer itu akan sarana hiburan di samping sarana perbelanjaan. Didirikan pada awal dekade tahun ’20-an dan selesai tahun 1925 dengan arsitek Prof. Ir. Wolf Schoemaker.
Pemutaran film pada masa ini, biasanya didahului oleh promosi yang menggunakan kereta kuda sewaan. Kereta itu berkeliling kota membawa poster film dan membagikan selebaran. Pemutaran filmnya sendiri baru dimulai pukul 19.30 dan 21.00. Sebelum film diputar, di pelataran bioskop Majestic, sebuah orkes musik mini yang disewa pihak pengelola memainkan lagu-lagu gembira untuk menarik perhatian. Menjelang film akan mulai diputar, orkes mini ini pindah ke dalam bioskop untuk berfungsi sebagai musik latar dari film yang dimainkan. Maklum saja pada pertengahan tahun 1920-an itu film masih meruapakan film bisu. Pada masa itu, sopan santun dan etiket menonton sangat dijaga. Di bioskop majestic tempat duduk penonton terbagi dua, antara penonton laki-laki dan perempuan, deret kanan dan kiri.
ERA 1930 - 1941
Tahun 1931-an, Perfilman Indonesia mulai bersuara. Bahkan film dari Hollywood yang masuk sudah menggunakan teks melayu. Sejarah mencatat, pelopor film bersuara dalam negeri adalah Atma de Vischer yang diproduksi oleh Tans Film Company bekerja sama dengan Kruegers Film Bedrif di Bandung. Menyusul Eulis Atjih (masih dari produser yang sama). Setelah kedua film ini diproduksi, mulai bermunculan perusahaan-perusahaan film lainnya seperti: Halimun Film Bandung yg membuat Lily van Java dan Central Java Film Coy (Semarang) yg memproduksi Setangan Berloemoer Darah.
Menyusul Resia Boroboedoer, Nyai Dasima (film bicara pertama, tahun 1932), Rampok Preanger, Si Tjomat, Njai Siti, Karnadi Anemer Bengkok, Lari Ka Arab, Melati van Agam, Nyai Dasima II dan III, Si Ronda dan Ata De Vischer, Bung Roos van Tjikembang, Indonesia Malasie, Sam Pek Eng Tay, Si Pitoeng, Sinjo Tjo Main Di Film, Karina`s Zeffopoffering, Terpaksa Menika (film berbicara-musik) dan Zuster Theresia.
Selama kurun waktu itu (1926 - 1931) sebanyak 21 judul film (bisu dan bersuara) diproduksi. Jumlah bioskopun ikut meningkat dengan pesat. Majalah film pada masa itu, Filmrueve, hingga tahun 1936 mencatat adanya 227 bioskop. Daftar itu ternyata menunjukkan bahwa bioskop-bioskop bukan hanya berada di kota-kota besar tapi juga di kota-kota kecil seperti: Ambarawa, Balige, Subang dan Tegal.
Pada periode 1933-1936, perfilman Hindia Belanda diwarnai kisah-kisah legenda Tiongkok, di antaranya: Delapan Djago Pedang, Doea Siloeman Oelar, Ang Hai Djie, Poet Sie Giok Pa Loei Tjai, Lima Siloeman Tikoes, dan Pembakaran Bio.
Di tahun 1937, Film musikal "Terang Boelan" (het Eilan Der Droomen) menjadi film terpopuler di eranya dan mencuatkan nama Roekiah serta Raden Mochtar sebagai pasangan aktror dan aktris yang paling digemari. Film ini adalah produksi dua kekuatan non-pribumi: Krugers dan Wong Bersaudara.
Hingga periode 1937-1942, film yang beredar di Hindia Belanda umumnya diproduksi oleh pengusaha keturunan China. Pada periode ini, produksi film Indonesia mengalami panen pertama kali dan mencapai puncaknya pada tahun 1941. Ditahun ini tercatat sebanyak 41 judul film yg diproduksi, terdiri dari 30 film cerita dan 11 film bersifat dokumenter. Film-film yang diproduksi pada masa ini kebanyakan bertema romantisme yang diselingi lagu, tarian, lawakan dan sedikit laga.
Tahun 1934 para pelaku industri film mulai membentuk organisasi Gabungan Bioskop Hindia (Nederlandsch Indiche Bioscoopbond), menyusul adanya organisasi Gabungan Importir Film (Bond van Film Importeurs). Pada awalnya, pengurus dan anggotanya adalah orang-orang non-pribumi. Ketika dalam organisasi tersebut mulai masuk orang-orang pribumi yang memunculkan wacana ‘nasionalisme’, pemerintah Hindia Belandapun mulai mencurigai badan tersebut sebagai wadah yang mengusung ideologi gerakan untuk merdeka.
Oleh karenanya, Pemerintahan Hindia Belanda mulai melakukan pengawasan ketat kepada perkembangan perfilman dengan membentuk Film Commissie (cikal bakal lahirnya Badan Sensor Film atau LSF di masa kini. Dasar hukumnya yang menjadi landasan dibetuknya Film Commisie adalah Film Ordonantie buatan Pemerintah Belanda (cikal bakal lahirnya BP2N dan Undang-Undang Perfilman Indonesia di masa kini).
ERA 1942 - 1944
Pada masa ini gerakan politik nasionalisme perfilman mulai sarat dengan nuansa politik. Pers dan kalangan terpelajar menuntut film berkualitas untuk perjuangan. Para seniman atau artis dituntut punya tanggungjawab melalui karyanya kepada rakyat. Para wartawan dan sineaspun mulai menggagas, perlunya Klub Kritisi dengan anggota Wartawan Indonesia, Tionghoa dan Belanda.
Gayung bersambut. Kalangan film menanggapi respon politik tersebut dengan melahirkan organisasi bernama SARI (Sjarikat Artist Indonesia) pada 28 Juli 1940 di Prinsen Park (Lokasari Jakarta, di masa kini) yang dihadiri 58 aktivis film. Pencetusnya adalah Saerun dan Moehammad Sin, wartawan pengasuh ruang film Majalah Pembangoenan.
Tatkala Belanda menyerah pada Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, politik perfilman Indonesia mengalami perubahan besar-besaran. Pemerintahan Militer Jepang menjadikan film sebagai media propaganda politik Asia Timur Raya. Hal pertama yang dilakukan mereka adalah menutup semua perusahaan film yang ada, termasuk JIF milik Te Teng Chun serta Tan’s Film milik Wong Bersaudara. Wong Bersaudara pun beralih profesi menjadi penjual kecap dan limun. Sementara Te Teng Chun memimpin sandiwara Djantoeng Hati. Sementara para artisnya kembali ke media tonil atau sandiwara.
Naskah dan tampilan harus disensor oleh Sindenbu atau Badan Propaganda. Badan ini juga membentuk organisasi pengedar film bernama Eiga Haikyusha, organisasi sandiwara bernama Jawa Engeki Kyokai dan Pusat Kebudayaan bernama Keimin Bunka Shidoso.
Kemudian Pemerintah Militer Jepang mendirikan perusahaan film bernama Jawa Eigha Kosha (cikal bakal lahirnya PFN di masa kini) pada bulan September 1942. Dan berubah menjadi Jepang Nippon Eiga Sha pada April 1943, Perusahaan ini gencar memproduksi film-film propaganda. Di kantor ini pula menjadi tempat pertama kali sineas pribumi mempelajari dan membuat sebuah film. Para sineas yang temasuk di dalamnya antara lain: Mohammad Jamin, Chaeroel Saleh, R.M Soetarto, Kaharudin, Armijn Pane, Usmar Ismail, Cornel Simandjoentak.
Pada masa ini, setiap bioskop di Hindia Belanda diwajibkan menayangkan slide dan memutar film-film pendek berisi bahan penerangan dan propaganda Pemerintah Pendudukan Jepang. Dan menjadi awal pelarangan bagi film impor (Amerika dan Inggris).
Nama-nama bioskop pun banyak yang diganti, misalnya: Rex Bioscoop di Jakarta menjadi Yo Le Kwan, Emma Bioscoop di Malang menjadi Ki Rak Kwan, Central Bioscoop di Bogor menjadi Thoeo Gekijo.
Untuk menarik hati kaum Muslimin, bioskop dilarang beroperasi pada waktu maghrib dan isya. Bioskop yang semula hanya diperuntukkan bagi warga kulit putih, seperti Deca Park dan Capitol, dibuat terbuka untuk pribumi.
Namun perfilman dan bioskop pada masa pendudukan Jepang ini juga mengalami masa dilematis. Jumlah bioskop semakin hari semakin menurun tajam. Dari semula sekitar 300 gedung menjadi hanya 52 gedung, masing-masing tersebar di Surabaya, Malang, Yogyakarta, Semarang, dan Jakarta. Penyebabnya hanya satu, harga tiket yang mahal, setara harga satu kilogram beras jatah pemerintah (10 sen) dan film yang diputar hanya berisi propaganda tanpa sedikitpun mengandung unsur hiburan.
Sejarah mencatat hanya sedikit film yang lahir masa ini, seperti: Berdjoeang dan Ke Seberang karya sutradara Rd. Arifien; Di Desa dan Di Menara karya sutradara Rustam Sutan Palindih; Hoedjan karya sutradara Inu Perbatasari. Para pembuat film ini adalah orang-orang pribumi yang punya jabatan dalam Pemerintahan Militer Jepang.
Dalam suasana politik seperti itu timbullah kesadaran kaum pribumi dalam melihat film bukan semata produk industri dan hiburan semata, melainkan juga sebagai media perjuangan. Tokoh pergerakan seperti Dr. Adnan K Gani pun ikut main dalm sebuah film.
Tapi karena produksi film makin hari makin surut, maka kegiatan para aktivis lebih banyak ke arah diskusi dan strategi politik. Dari aktifitas ini mulai muncul nama-nama pendekar seni, seperti: Usmar Ismail, Jayus Siagian, D. Jayakusuma. Ketiga orang inilah yang menghidupkan klub diskusi film lalu merintis sekolah film di Yogya. Namun baru beberapa bulan kemudian ditutup oleh Pemerintah Militer Jepang.
Di masa-masa inilah Usmar Ismail membuat sajak berjudul Tjitra dan digubah oleh Cornel Simanjuntak menjadi lagu. Sajak dan lagu Tjitra pertama kali dipublikasikan di majalah Djawa Baroe pada Desember 1943. Di tahun 1946, sajak dan lagu tersebut difilmkan oleh Usmar Ismail.
Iklim politik mulai berubah, tatkala Jepang mulai terdesak di sana-sini hingga masa revolusi yang melahirkan negara bernama Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Hanya dalam hitungan hari, berbagai gerakan yang diprakarsai seniman bermunculan, bukan hanya di Jawa tapi juga di Sumatera. Pergerakan berbau pulotik ini kebanyakan diusung lewat kelompok-kelompok sandiwara. Di antaranya: Usmar Ismail, Cornel Simanjuntak, D. Jajakusuma, Suryosumanto dan lain-lain mendirikan perkumpulan Seniman Merdeka; Sementara itu di Sumatera Barat ada Sjamsoedin Syafei yang menggerakkan kelompok Ratu Asia.
Studio film Jepang, Nippon Eigha Sha, direbut dengan kekerasan oleh kelompok pribumi di bawah pimpinan RM Soetarto. Pada masa ini pula lahir Berita Film Indonesia atau BFI.
Pada masa ini pula lahir tiga lembaga perfilman yang menjadi cikal bakal film Indonesia. Ketiga lembaga itu adalah Perusahaan Produksi Film, Perusahaan Peredaran Film, dan Perfini (Perusahaan Film Nasional Indonesia).
Pada tahun 1946, Yogyakarta menjadi pusat pemerintahan darurat. Oleh karenanya di kota ini berdiri sekolah film bernama Cine Drama Institute atau CDI. Dan pendirinya, antara lain: Djamaluddin Malik dan Mr Soedjarwo. Lalu muncul juga sekolah film bernama KDA yang dirintis Huyung, Sri Murtono, Trisno Soemardjo, Kusbini dan lain-lain. Para pendiri KDA ini juga mendirikan Stichting Hiburan Mataram yang pada tahun 1950 melahirkan film Antara Bumi dan Langit.
Film Indonesia yang lainnya yang diproduksi setelah kemerdekaan ini, antara lain: Air Mata Mengalir di Tjitaroem yang disutradarai oleh Rustam St Panidih, Anggrek Boelan (Anjar Asmara), Djaoeh Dimata (Anjar Asmara), Aneka Warna (Moh Said), Bengawan Solo (Jo An Tjiang), Harta Karun (Usmar Ismail), Menanti Kasih (Moh Said), Sehidup Semati (Fred Young), dan Tjitra (Usmar Ismail).
Pada era ini, minat masyarakat terhadap film-film Hollywood muncul kembali lagi. Film-film ini masuk dengan sangat mudah melalui sebuah agen pengimpor film yang dikenal dengan sebutan AMPAI (American Motions Pictures Asociation in Indonesia) yang merupakan perwakilan dari perusahaan-perusahaan film, seperti: Paramount, Universal, 21Century Fox, MGM, Columbia, dsb. Masuknya film-film impor ini dengan mudah ke tanah air karena sama sekali tak dibatasi kuota impornya.
by: http://18-detik.blogspot.com/2009/02/sejarah-perfilman-nasional.html Selengkapnya...
-
Categories
- Agenda (1)
- berita (2)
- Informasi (4)
- Materi Diskusi (2)
- Sejarah (3)
-
Ngbrol Sejenak
Sekarang...